Senin, 15 Februari 2010

Ah, yang Penting kan Hatinya!

Disalin oleh : Bulkeri (Abi Zuhri)

Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang 'ngetrend' dan biasa kita dengar adalah " Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka 'ngerumpi' berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya tadi.


Syubhat lainnya lagi adalah " Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ??


Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta'ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana. Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan "tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir) dalam diri orang itu.


Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan "alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu "ala llah' artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.


Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta'ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka.Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya. Lengkapnya adalah sebagai berikut:


"Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian "(HR. Muslim 2564/33).


Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut:


"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).


Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya. Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Urwah lahir dari nasab dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal, bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat. Aduhai,..betapa lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan generasi pendahulu kita.

Wallahu'alam .......




Senin, 08 Februari 2010

Valentine’s Day, NO WAY!!!!


Disalin kembali oleh : Bulkeri (Abi Zuhri)



Assalamu’alaikum Sahabatku,….

Memasuki bulan Februari, kita selalu menyaksikan media massa, mal-mal,dan pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba-lomba untuk menarik perhatian para remaja. Dan tepat pada tanggal 14 Februari, tidak sedikit di antara mereka berhura-hura menggelar pesta perayaan hingga larut malam, bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine's Day. Biasanya mereka saling mengucapkan "selamat hari Valentine", berkirim kartu dan bunga, saling curhat, saling bertukar pasangan menyatakan sayang atau cinta karena beranggapan, bahwa saat itu adalah "hari kasih sayang". Benarkah demikian? Bahkan fenomena yang marak terjadi tersebut di dalamnya berlangsung pula pesta seks bebas.


SEJARAH VALENTINE'S DAY


The World Book Encyclopedia, vol. 20 (1993) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine's Day.


Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara penyucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda mencambuk orang dengan kulit binatang dan para wanita juga berebut untuk dicambuk karena anggapan cambukan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.


Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Constantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, vol. 12, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada tahun 496 M, Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine's Day untuk menghormati St.Valentine yang mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).


The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan telah mati pada masa Romawi. Namun demikian, tidak pernah ada penjelasan siapa "St. Valentine" yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.


Versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan St. Valentine, karena menya-takan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang sudah menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah. Akan tetapi St. Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda, sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, vol 20, 1993).


Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Lalu bagaimana dengan ucapan "Be my valentine?" Ken Sweiger dalam artikel "Should Biblical Christians Observe It?" (www.korrnet.org) mengatakan, "Kata 'Valentine' berasal dari bahasa Latin yang berarti: 'Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa'. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi "Be my valentine", hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi "Sang Maha Kuasa") dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah subhanahu wata’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod "the hunter" dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan, sehingga diburu wanita, bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!


Saudaraku, itulah sejarah Valentine's Day yang sebenarnya, yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala, dan penghormatan kepada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan "kasih sayang", lalu mengapa kita masih juga menyambut hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?. Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita -remaja putra-putri Islam- yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain.


Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al Isra': 36).



HUKUM MERAYAKAN VALENTINE'S DAY


Tidak semua yang dilakukan dan dipandang baik oleh kebanyakan manusia harus kita ikuti, bahkan hal tersebut menjadi tercela dan diharamkan dalam Islam, jika perbuatan atau orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan (Aqidah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang umatnya untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam dan segala sesuatu yang menjadi kekhususan mereka dan agama mereka, sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR. At-Tirmidzi).


Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali st.Valentine, maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian, maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu berkata, "Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. seperti memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka dengan mengucapkan, "Selamat hari raya!" dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak, itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah subhanahu wata’ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah subhanahu wata’ala dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang memahami agama, terjerumus ke dalam perbuatan ini, tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala."


Abu Waqidz meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath. Biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa 'alaihi wasallam, "Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan." Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala' dan bara' (loyalitas kepada kaum muslimin dan berlepas diri dari orang-orang kafir) yang merupakan dasar akidah para as-Salaf ash-Shalih. Yaitu dengan mencintai orang-orang mu'min dan membenci serta tidak menyerupai orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku mereka.


Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: Ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka, sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka'at shalatnya telah mengucapkan, "Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka (para nabi, shidiqin, syuhada` dan shalihin); bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)." (QS. Al-Fatihah: 6-7)


Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan orang-orang yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.


Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Maidah: 51)


"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-Mujadilah: 22)


Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling berkorban karena Aku dan yang saling mengunjungi karena Aku." (HR. Ahmad).


Syaikh al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine's Day mengatakan, "Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena sebab-sebab berikut,

Pertama: Ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari'at Islam.

Kedua: Ia dapat menimbulkan kasmaran dan mabuk cinta.

Ketiga: Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para as-Salaf ash-Shalih (pendahulu kita) -semoga Allah subhanahu wata’ala meridhai mereka-.

Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah subhanahu wata’ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjuk-Nya."

Sahabatku yang dirahmati Allah,.. berhati-hatilah dengan ritual demi ritual yg bisa merusak aqidah kita,. jauhkan sifat ikut-ikutan, dan berusahalah mendekatkan diri kepada Allah SWT.



Minggu, 07 Februari 2010

Kiat - Kiat dalam Memperhatikan Anak (Bagian I)


Oleh : Bulkeri (Abi Zuhri)


Assalamu’alaikum wahai sahabatku,….

Pada kesempatan yg berbahagia ini, izinkan saya menulis apa yg ada dalam pikiran saya, guna mempelajari bagaiman seharusnya kita bertindak kepada anak, sehingga seorang anak tidak akan pernah mendurhakai orang tuanya.

Tulisan ini, sengaja saya buat, supaya kesalahpahaman orang tua dalam mendidik anak dapat merubah cara memberikan perhatian kepada anak.

Dan pemaparan tulisan ini, sengaja diambil dari kehidupan sehari-hari dalam mendidik anak dilingkungan masyarakat itu sendiri.

Kita awali dari berhubungan suami istri.

  1. Hubungan suami istri (senggama),. Ada beberapa trik-trik yg harus dilaksanakan :

a. Usahakan untuk selalu ber Wudhu sebelum senggama;

b. Setelah Wudhu,. Usahakan mengerjakan sholat sunnah;

c. Kemudian sebelum senggama,. terlebih dahulu dilakukan bercumbu (berkasih sayang) dgn suami atau istri;

d. Setelah bercumbu, barulah senggama dengan terlebih dahulu membaca Do’a senggama;

Dengan lafaz Do’anya adalah : Bismillahi Allohumma jannibnissyaiton wa jannibissyaiton ‘ala ma rozaqtani ..

Artinya : “Ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkan setan dari apa yang Engkau berikan rezeki bagiku (anak)."

Sesungguhnya kalau seandainya Allah menganugerahkan bagi mereka anak maka anak tersebut tidak akan diganggu setan sama sekali. (HR. Bukhari)

e. Setelah selesai senggama, dan akan memulai lagi untuk senggama, yg dilakukan adalah cukup dgn Wudhu,.

Hadist menyebutkan bahwa : “Dari Anas bin Malik r.a, ia berkata .”Bahwa Rasulullah SAW menggilir istri-istrinya dalam satu malam, kemudian mandi satu kali” (HR. An-Nasa’I dan Baihaqi)

  1. Setelah adanya Kehamilan, ada yg harus dilakukan sewaktu mengandung bayi, :

a. Usahakan membaca Al-Qur’an (memperdengarkan bacaan Al-Qur’an pada perut istri sampai hendak melahirkan,. Karena bacaan Al-Qur’an sangatlah bagus untuk sibayi didalam perut istri;

b. Jangan pernah memperdengarkan lagu-lagu hadiah (VCD) yg diberikan pada saat pembelian susu, karena didalam CD tersebut terdapat lagu rohani Nasrani;

c. Usahakan mengkonsumsi berbagai macam gizi untuk pertumbuhan anak;

d. Usahakan untuk tidak pernah memarahi istri yg sedang mengandung, karena secara psikology, emosional si ibu yg mengandung sangat berpengaruh kepada bayi dalam kandungan;

e. Usahakan selalu menggembirakan istri yg sedang hamil;

f. Jangan terpengaruh kepada sugesti-sugesti (mistik) kebiasaan orang tua kita dulu,. Yg pada saat bepergian dianjurkan untuk selalu bawa benda tajam, seperti pisau dan gunting. Ini sangat bertentangan dengan agama kita.

g. Hindari dari berbuat syirik kepada Allah. Seperti pada point f. diatas.

Karena “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An-Nisa :48) dan

“Sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Kamis, 04 Februari 2010

Bid'ah dan Kesesatan

Disalin oleh : Bulkeri (Abi Zuhri)


Bid’ah adalah Sesuatu yg baru dalam agama. Dan sesuatu yg diciptakan namun menayalahi kebenaran yg diterima dari Rasulullah SAW dan prinsip agama yg benar.

1. Barangsiapa menimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak. (HR. Bukhari)

2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim)

3. Dua golongan dari umatku yang tidak punya bagian dalam Islam adalah kaum Jabariyah dan kaum Kadariyah. (HR. Ahmad)

4. Apabila kamu melihat orang-orang yang ragu dalam agamanya dan ahli bid'ah sesudah aku (Rasulullah Saw) tiada maka tunjukkanlah sikap menjauh (bebas) dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan kata tentang mereka dan kasusnya. Dustakanlah mereka agar mereka tidak makin merusak (citra) Islam. Waspadai pula orang-orang yang dikhawatirkan meniru-niru bid'ah mereka. Dengan demikian Allah akan mencatat bagimu pahala dan akan meningkatkan derajat kamu di akhirat. (HR. Ath-Thahawi)

5. Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, "Siapa 'mereka' yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani." (HR. Bukhari)

6. Tiga perkara yang aku takuti akan menimpa umatku setelah aku tiada: kesesatan sesudah memperoleh pengetahuan, fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan syahwat perut serta seks. (Ar-Ridha)

7. Barangsiapa menipu umatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Ditanyakan, "Ya Rasulullah, apakah pengertian tipuan umatmu itu?" Beliau menjawab, "Mengada-adakan amalan bid'ah, lalu melibatkan orang-orang kepadanya." (HR. Daruquthin dari Anas).

Sahabatku yang dirahmati Allah,. Beribadahlah kepada Allah dengan tidak melakukan hal yg baru dalam agama. Dan ikutilah tuntunan agama yg dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, insya Allah kita tidak akan sesat. Wallohu A’lam…

SHALAT TASBIH



Disalin kembali oleh : Bulkeri (Abi Zuhri)



Dari shahabat Abdullah bin Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW mengajari Sayyidina Abbas bin Abdil Mutthalib RA : `Wahai Abbas, Wahai pamanda, maukah engkau aku beri? maukah engkau aku hadiahi? maukah engkau aku cintai? maukah engkau aku ajari sepuluh hal, jika engkau melakukannya maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu semuanya, baik dosa yang terdahulu maupun yang akan datang, baik dosa yang lama maupun yang baru, baik dosa yang tidak sengaja maupun yang sengaja, baik dosa yang kecil maupun yang besar, baik dosa yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.

Adapun sepuluh hal tersebut adalah: engkau shalat empat rakaat, engkau baca Alfatihah dan satu surat pada setiap rakaat. Jika selesai membaca surat pada rakaat pertama dan engkau masih berdiri, maka bacalah : subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, sebanyak lima belas kali.

Kemudian engkau ruku` dan bacalah (maksudnya : subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar) sebanyak sepuluh kali. Kemudian engkau berdiri dari ruku` dan bacalah sepuluh kali. Lantas engkau bergerak untuk sujud dan bacalah tatkala engkau sujud sepuluh kali. Berikutnya engkau bangun dari sujud (untuk duduk) maka bacalah sepuluh kali. Lantas engkau sujud (lagi) dan bacalah sepuluh kali. Kemudian engkau bangun dari sujud (untuk duduk sejenak sebelum berdiri) maka bacalah sepuluh kali. Nah, jika dijumlah maka engkau membacanya sebanyak tujuh puluh lima kali pada setiap rakaat.

Engkau lakukan semua itu pada empat rakaat. Jika engkau mampu maka amalkanlah (Shalat Tashbih ini) setiap hari sekali, jika tidak mampu maka lakukan pada setiap Jumat sekali, jika tidak mampu maka lakukanlah setiap bulan sekali, jika tidak mampu maka lakukanlah setiap tahun sekali, dan jika tidak mampu maka minimal engkau lakukan satu kali dalam seumur hidupmu. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Huzamah, dan Atthabarani yang terdapat tambahan pada akhir riwayatnya : Sekalipun dosa-dosamu sebanyak buih lautan atau sebanyak batu kerikil yang saling berhimpitan, maka Allah akan mengampunimu).

Perlu diketahui bahwa pada rakaat kedua dan rakaat terakhir, maka kalimat subhanallah dan seterusnya, dibaca sepuluh kali setelah menyelesaikan bacaan tahiyyat awwal atau akhir secara sempurna, waktunya sebelum berdiri atau sebelum salam.

Shalat tashbih ini telah diamalkan oleh para ulama dan kalangan orang-orang shalih dari masa ke masa. Sehingga menurut standar ilmu musthalah hadits, maka riwayat tentang ajaran Shalat Tashbih ini nilainya menjadi semakin kuat.

Tentunya dalam kondisi masyarakat dewasa ini yang semakin lama tampak semakin amburadul, dan jauh dari tuntunan syariat, suatu kondisi yang menyebabkan kemaksiatan semakin vulgar dan merajalela. Yang mana dampak negatifnya semakin merata di hampir semua lapisan masyarakat.

Kini, banyak orang yang tidak takut meninggalkan shalat secara terang-terangan, modus penipuan juga semakin bervariatif, portitusi, pornografi, pejudian, korupsi, dan bermacam-macam bentuk kejahatan serta kemungkaran sudah menjadi berita harian di semua mass media.


Barangkali, amalan Shalat Tashbih yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ini, adalah salah satu alternatif yang dapat dijadikan solusi bagi siapa saja dari kalangan umat Islam, yang ingin mendapatkan ketenangan jiwa, ketentraman bathin, dan yang dapat membebaskan diri dari serangan dan himpitan segala macam penyebab depresi, yang terus menyodok dan menyerang kehidupan umat Islam.


Semoga bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,. amiiin ya Robbal'alamiiiin..



Rabu, 03 Februari 2010

WANITA SHALEHAH


Disalin oleh : Bulkeri (Abi Zuhri)

Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari.

Hikam:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya.

Rosulullah saw bersabda: "Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah." (HR. Muslim).

Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya.

Pada prinsipnya wanita solehah adalah wanita yang taat pada Allah, taat pada Rasul. Kecantikannya tidak menjadikan fitnah pada orang lain. Kalau wanita muda dari awal menjaga dirinya, selain dirinya akan terjaga, juga kehormatan dan kemuliaan akan terjaga pula, dan dirinya akan lebih dicintai Allah karena orang yang muda yang taat lebih dicintai Allah daripada orang tua yang taat.

"Wahai kaum wanita, aku tidak melihat dari suatu kaum (orang-orang) yang lemah akal (pemikiran) dan lemah agama lebih menghilangkan hati orang-orang yang sehat akal dan benaknya dari pada kamu (kaum wanita). Aku telah menyaksikan neraka yang penghuninya paling banyak kaum wanita. Maka dekatkanlah dirimu kepada Allah sedapat mungkin". (HR. Bukhari).

Dan, Insyaallah nanti oleh Allah akan diberi pendamping yang baik. Agar wanita solehah selalu konsisten yaitu dengan istiqomah menimba ilmu dari alam dan lingkungan di sekitarnya dan mengamalkan ilmu yang ada.

Semoga,…...:)